Monday, 22 February 2016

Batak itu Yahudi?

RIduan Situmorang
Jika saja “Ya” jawaban saya pada pertanyaan di atas, pasti akan banyak orang yang keberatan. Mungkin, ada pula yang bangga sekaligus terheran-heran. Darimana nalarnya, historisnya, kulturnya sampai Batak itu dapat dikatakan sebagai keturunan Yahudi? Yang pasti, nalar harus dikedepankan. Saya juga tahu, tulisan ini, apalagi kalau saya bersetuju, akan menuai pro dan kontra yang barangkali menjadi kontroversi.

Seperti dikemukakan di atas, nalar harus dikedepankan. Pro dan kontra akan selalu mengikuti, bahkan pada kenyataan yang sudah benar sekalipun, pro dan kontra hampir selalu menjadi bagian tak terpisahkan. Lagipula, kontrovesi bukan menjadi cerminan kalau-kalau yang kontroversial tadi salah bulat-bulat. Demikian juga sebaliknya. Saya lebih sepakat, kontroversi akan mengantar kita pada situasi hati terbuka, nalar dipakai, dan tetap ceria untuk mendiskusikannya. Alih-alih percekcokan, kita justru akan menuai sebuah pengalaman keilmuan yang baru.

Catursila dan Pancasila

Justru itu, saya menuliskan artikel ini di sini. Penulisan artikel ini bukan tanpa alasan. Sudah ada selentingan sayup-sayup di media sosial, Batak itu salah satu bagian dari suku Yahudi. Hal serupa juga pernah mencuat, Pancasila berasal dari Catursila orang Batak. Tak ada bukti yang sahih memang, tetapi setidaknya Catursila sama sekali tak bertolak belakang dengan Pancasila. Baik Catursila maupun Pancasila saling bersinggungan satu sama lain dan saling menguatkan.

Mungkin belum banyak yang tahu apa isi Catursila. Karena itu, baiklah saya ikutkan di sini dan darimana harus dipandang kalau Pancasila itu tak bertentangan dengan Catursila. Pertama, Pemilik Neraca yang Seimbang (parhatian sobola timbang). Sila pertama ini pasti senapas dengan sila kelima kita, yaitu keadilan sosial bagi seluruh Indonesia.

Kedua, Pemilik bajak yang membelah tali (Parninggala Sibola Tali). Arti langsung dari sila kedua ini adalah, Batak menujungung tinggi nilai kebenaran yang lurus. Kita tahu, kebenaran yang lurus itu sejatinya bermula dari sabda-sabda Tuhan. Senyawa dengan ketuhanan yang Maha Esa, bukan?

Ketiga, Penjaga padi tanpa bandering (Pamuro So Marambalang). Sila ini senada pula dengan sila keempat Pancasila kita. Begini kira-kira definisinya, bemimpin dalam kacamata Batak itu harus mempunyai wibawa. Wibawa maskudnya bukan harus memiliki senjata yang lalu rakyat takut, tetapi lebih pada aspek keteladanan sehingga rakyat merasa bahwa setiap orang memiliki jarak yang sama pada keadilan.

Keempat, gembala tanpa cambuk (Parmahan So Marbatahi). Kita sama-sama tahu, gembala selau memakai cambuk. Dari kacamata Batak, gembala tidak harus memakai kekerasan. Karena itulah, kalau orang dulu mengenal istilah mata ganti mata, mengenal istilah hukum pancung dan hukum gantung, Batak justru tidak mengenalnya. Jikapun salah, Batak selalu mengandalkan kekuatan diplomasi yang lalu pada akhirnya, orang yang bersalah minta maaf dengan cara mangindahani, tidak dihukum secara fisik, tetapi lebih pada penyadaran melalui relasi sosial hingga pada akhirnya mangindahani (makan bersama). Ini sama artinya dengan sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Saya sengaja mengetengahkan itu untuk menjelaskan, meski tak ada data sahih yang membuktikan Pancasila dari Catursila, setidaknya keduanya tak bertentangan. Butuh diskusi untuk memperdebatkannya dengan hati terbuka. Tidak untuk mencari apakah itu salah atau benar, tetapi lebih pada membuka wawasan agar kita semakin mengenal kedirian kita dengan lebih baik. Mengenal diri lebih baik merupakan awal dari cinta negara-bangsa.

Kembali ke topik, apakah Batak merupakan keturunan, atau setidaknya bagian tak terpisahkan dari Yahudi? Kita hanya membuka wawasan. Bukan menjustifikasi, apalagi mengklaim!

Setelah Raja Salomo wafat, Israel terpecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri atas dua suku: Yehuda dan Benjamin yang lebih dikenal menjadi Yahudi.  Kerajaannya kemudian disebut Yehudah, ibu kotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea. Sedangkan, bagian Utara terdiri atas 10 suku atau lebih dikenal dengan Kerajaan Israel. Dalam perjalanan sejarah, konon, 10 suku ini kehilangan identitasnya. Mereka tidak lama bertahan sebagai negara dan hilang dari ingatan sejarah. Mereka banyak ditaklukkan, ditawan, diperbudak, diungsikan setelah beberapa perang, termasuk oleh bangsa Assyria. Sebagiannya lagi, lari meninggalkan daerahnya.

Yehuda juga mengalami nasib yang kurang lebih sama, yaitu ketika Kerajaan Romawi berkuasa. Sebagaian bertahan, tetapi lebih banyak yang lari mengungsi dan kemudian berserak. Pada perjalanannya lagi, kedua rakyat kerajaan ini diizinkan pulang, tetapi kesepuluh suku tadi lebih memilih meneruskan petualangan ke arah Timur. Singkat saja, mungkin di lain kesempatan kita buat data yang lebih banyak. Yang pasti, dari cerita ini kita ketahui, Yahudi suka berpetualang.

Alkitab Vs Ilmiah

            Bagaimana dengan Batak? Menurut KBBI, Batak diartikan sebagai petualang, pengembara. Bahkan membatak artinya berpetualang atau pergi mengembara. Dalam sebuah ayat Kitab Suci (Hosea 19:17) dikatakan, Allahku akan membuang mereka, sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan (saya garis bawahi di sini) mengembara di antara bangsa-bangsa.

Ada lagi ayat Kitab Suci yang sepertinya secara spesifik agaknya mengarah ke Indonesia. Bandingkanlah dengan Yesaya 11:11. Di sana disebutkan Tuhan akan menebus sisa-sisa umat-Nya yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan di Elam, di Sinear, di Hamat, dan (saya garis bawahi lagi) di pulau-pulau di laut. Itulah sekilas data-data yang agak bersinggungan jika ditinjau dari sisi alkitabiah.

Data-data ilmiah juga kurang lebih sepertinya meneguhkan hal serupa. Entah itu kebetulan atau tidak, yang pasti ini harus menjadi bagian dari diskusi untuk kita. Seperti diungkapkan seorang antropolog dan pendeta dari Belanda, Prof. Van Berben, diperkuat pula oleh guru besar dari UI, Ihromi, (Universitas in 782 donesia), konon tradisi etnik Tapanuli (khususnya Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi Israel Kuno. Apa itu? Baiklah kita sebutkan beberapa di sini!

Pertama, memelihara silsilah atau marga. Batak merupakan suku yang fanatik terhadap marga. Nama bisa diganti, ketika, misalnya terjadi pertukaran agama, tetapi marga sama sekali tidak. Israel Kuno juga sangat militan terhadap silsilah. Saking militannya, asal-usul Yesus bahkan diketahui dengan sangat rinci. Lagipula, marga ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem patrilienal yang juga dianut oleh Yahudi.

Kedua, system perkawinan yang berpariban. Yakub dan Ribka dapat menjadi data faktual yang dapat menjadi rujukan. Belum lagi kalau kita lihat kesamaan pemahaman terhadap memandang alam: banua ginjang (surga), banua tonga (kita), dan banua toru (alam mati). Masih banyak lagi sebenarnya sehingga kolom ini rasanya tak cukup. Sebut, misalnya, bagaimana pemahaman mereka terhadap tulang-belulang nenek moyang, dan sebagainya. Orang Batak masih kental dengan ini. Tulang-belulang Yusuf pun dibawa juga dari Mesir.
Baiklah, karena kolom ini terlalu sempit, tujuan saya hanya ingin menggugah agar kita dengan hati terbuka mencari fakta-fakta. Di atas segalanya itu, tujuan kita berdiskusi pun bukan untuk mengemis agar diakui sebagai Yahudi. Kita harus tetap menjadi Batak dan menjadi Indonesia sampai kapan pun. Jadi, di sini kita tidak mencari kebenaran atau kesalahan. Kita hanya ingin membuka wawasan betapa menariknya Batak ditinjau dari sudut mana pun. Ini tentu merupakan sebuah kebanggaan yang tak terperikan.

Saya tanyakan lagi di sini agar didiskusikan dan dicari data-data menarik: apakah Batak itu Yahudi?

Penulis Merupakan Orang Yang Bangga Sekali Menjadi Batak, aktif di PLOt (Pusat Latihan Opera Batak)

0 comments: