Monday, 17 November 2014

Perempuan dan Buku

Perempuan dan Buku

Oleh: Riduan Situmorang
Ketika menjadi notulen pada bedah buku Perempuan di Pinggir Danau di Balai Marojahan 11 Oktober lalu, saya menyaksikan bahwa pada prinsipnya, kesetaraan gender hingga kini masih hanya sebuah impian. Saya juga menyaksikan bahwa pada kenyataannya, minat membaca dan membuat buku bagi anak bangsa kita masih sebuah mimpi yang membutuhkan kerja keras dan terukur. Kebetulan, acara ini menjadi salah satu rangkaian persiapan bagi kami yang pada klimaksnya nanti akan menampilkan Opera Batak di Jerman pada 2015. Saya tidak akan bercerita tentang opera dan buku itu di sini. Saya hanya fokus pada seberapa penting keberadaan buku dan perempuan dalam merawat peradaban, termasuk dalam menjemput kemajuan.
Joko Pinorbo pernah mengatakan begini: masa kecil kau rayakan dengan membaca; kepalamu berambutkan kata-kata. Tentu saja kalimat ini sangat tegas mendefinisikan bahwa membaca dan buku itu sangat penting bagi kehidupan. Tidak hanya bagi kehidupan, buku itu bahkan menjadi penentu kemajuan sebuah bangsa. Maka, ketika jurnal dan jumlah buku terbitan Indonesia kalah dengan Malaysia, kita meringis yang lalu membikin terobosan instan: mewajibkan mahasiswa mendaftarkan jurnalnya. Hasilnya? Oh, sangat mengerikan karena jurnal itu kini ibarat rongsokan lantaran ditumpuk hampir tanpa seleksi memadai. Bagaimana kalau kita bandingkan dengan Amerika? Aduh, lebih baik tidak usah, nanti kita pening sendiri.
Karena Isi Buku
Nah, karena terlanjur dikatakan bahwa buku berpengaruh terhadap kemajuan bangsa, tentu Anda bertanya, seberapa berpengaruh?
David C. McClelland pernah meneliti kemajuan sebuah bangsa. Kebetulan dia merupakan seorang psikolog sosial asal Amerika yang tertarik pada masalah-masalah pembangunan. Dia membandingkan Inggris dan Spanyol yang kita tahu bahwa pada abad ke-16 merupakan dua negara raksasa. Bedanya, sejak saat itu Inggris makin jaya, tetapi Spanyol malah melempem. Seperti David McClelland, kita tentu saja juga bertanya, mengapa hal tersebut bisa terjadi dan apa-apa saja yang menjadi penyebabnya.
Sebagaimana dimuat dalam buku Arief Budiman yang berjudul Teori Pembangunan Dunia Ketiga (1995), akhirnya David McClelland menemukan jawabannya. Ya, seperti tidak kita duga, faktor penentu itu ternyata ada pada muatan cerita buku. Kelihatannya, dongeng dan cerita anak-anak di Inggris pada awal abad ke-16 mengandung semacam virus yang menyebabkan pembacanya terjangkiti penyakit “butuh berprestasi” (need for achievement). Di sisi lain, cerita anak dan dongeng yang ada di Spanyol didominasi oleh cerita romantis, lagu-lagu melodramatis, dan tarian yang justru membuat penikmatnya lunak hati, meninabobokan.
Jika kesimpulan David McClelland benar, tentu saja negeri kita telah tertinggal dalam dua hal apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya lagi Malaysia. Ketertinggalan pertama adalah jumlah buku. Dulunya gap antara kita dengan Malaysia masih kecil. Kita masih disegani, tetapi sekarang, kita sepertinya sudah seakan takluk kepada mereka. Hasilnya, pulau kita mereka rebut dan sekarang mereka masih saja mengintai dan bermanuver di perairan kita. Kita? Oh, kita tampak linglung bahkan kapok terutama lagi ketika mereka mengklaim berbagai aset budaya kita.
Ketertinggalan kedua adalah isi buku kita yang makin buruk. Ketertinggalan ini makin disayangkan lagi setelah terjadi pergeseran makna buku bagi kita. Dulu buku itu menumbuhkan kreasi dan imajinasi. Sekarang, buku itu telah berubah menjadi sekadar buku tulis dan buku pelajaran yang jumlahnya segudang. Jangankan meningkatkan kreasi dan imajinasi, buku itu malah membebani karena kita membebani punggung anak-anak kita dengan membawa buku yang jumlahnya segudang. Artinya, otot siswa yang terlatih untuk membawa buku, bukan otak! Tragis bukan?
Ya, begitulah buku. Kelihatannya simpel, tetapi sesungguhnya dia memuat energi untuk membangkitkan kehidupan seperti Jepang yang kini kuat salah satunya dimotori oleh Komik Manga Captain Tsubasa. Bagaimana dengan perempuan?
Dalam buku Perempuan di Pinggir Danau yang kami bedah, mencuat kesimpulan bahwa perempuan memegang peranan kuat dalam peradaban. Bahkan dikatakan bahwa perempuan itu ibarat bumi yang menghidupi. Padanya, kita menyusui dan tanpa susu, anak-anak pasti kekurangan sesuatu. Tanpa ibu yang sehat pula, mustahil ada anak yang sehat. Maka, kalau ibu sudah tidak sehat, dipastikan generasi ke depan pun pasti tidak sehat. Ironisnya, negeri kita sepertinya kedodoran untuk ini.
Di sisi lain, ibu atau perempuan pun sepertinya masih terstigmatisasi pada budaya kita yang patrelineal. Gerakan emansipasi wanita kita bahkan terlambat dan melambat. Hampir seabad setelah Kartini, barulah kemudian muncul gerakan wanita yang kemudian menyosor pada pembentukan Partai Wanita Rakyat yang didirikan Sri Mangunsarkoro pada tahun 1945. Gerakan inilah yang mengilhami Gerwani. Selanjutnya, kita mengenal istilah PKK dan Dharma Wanita.
Menjemput Kemajuan
Sebagai klimaksnya, ada semacam kesepakatan bahwa wanita harus menduduki kursi DPR sebanyak 30 persen sebagai komplementer terhadap pemerkuatan kementerian pemberdayaan wanita. Ironisnya, prestasi perempuan mengalami terjun bebas, salah satu, misalnya, lantaran tertangkapnya gubernur wanita pertama, Ratu Atut, sebagai tersangka korupsi maha dahsyat. Belum lagi wanita-wanita lain seperti Angelina Sondakh dan Miranda Gultom. Imbasnya, kursi perempuan di Senayan periode ini hanya 15 persen atau turun 3 persen dari periode sebelumnya.
Sekilas, tidak ada pengaruh kuat terhadap sedikitnya perempuan yang terpilih di Senayan. Tetapi, siapa lagi yang akan memperjuangkan perempuan kalau mereka tidak banyak? Pria? Saya tidak mencurigai bahwa pria akan mendiskreditkan kepentingan wanita. Tetapi mari bersikap realistis, coba lihat bagaimana kedudukan wanita pada pemerintahan masa mendatang! Apakah mereka dipandang?
Kalau kita melihat Nawa Cita-nya Jokowi-JK, sama sekali tidak ada disinggung masalah perempuan di sana. Padahal, kita menyadari, tanpa ibu yang sehat, mustahil ada anak yang sehat. Dan kita sama-sama sadar bahwa pemegang estafet negeri ini ke depan adalah anak-anak. Pertanyaannya, bagaimana mendapatkan anak yang sehat yang suka membaca buku kalau ibunya tidak disuguhi program khusus? Ibunya saja tidak dididik membaca, bagaimana lagi ibunya akan mengajarkan anaknya membaca buku?
Ya, begitulah perempuan. Terkesan simpel, tetapi di balik merekalah sebenarnya tersimpan energi masa depan. Hal itu tidak berlebihan. Mungkin karena alasan pentingnyalah kedudukan wanita maka istilah yang feminis selalu digaungkan seperti sebutan ibu pertiwi, alma mater, dan masih banyak lagi. Maka, apabila kita ingin merawat peradaban dan memajukannya, seharusnya kita sudah memerhatikan keterdidikan perempuan. Dengan begitu, perempuan yang kelak menjadi ibu akan terampil mengajarkan anaknya membaca buku. Dengan terampilnya anak membaca buku, di sinilah kita sudah sedang beranjak membuka jendela dunia dan menjemput kemajuan. Jadi kata kunci kemajuan itu adalah perempuan dan buku! ***

0 comments: